Secangkir sejarah melalui komik

Oleh: Okim

Kilas balik sebentar, ketika duduk di bangku sekolah dasar, pelajaran sejarah menuturkan tentang peristiwa Hotel Oranje Surabaya yang heroik dan berkobar-kobar, juga mengenai  sepak terjang Diponegoro, seorang pangeran. Ketika menikmati komik Melati Revolusi, yang terangkum dalam Majalah Kumpulan Cergam Kampungan edisi pertama saya langsung akrab dan langsung berkata “ya”  peristiwa Hotel Oranje Surabaya itu memang benar-benar terjadi, sesuai dengan buku sejarah yang telah terbaca waktu sekolah dulu, tetapi bagaimana dengan peristiwa Semin pada komik Kidung Malam?

Saat membaca komik Kidung Malam, dan dari diskusi di Galeri Nasional waktu itu (14 Februari 2010). Saya termenung sejenak, “masa iya sih, peristiwa Semin ini benar-benar terjadi?” (saya ketinggalan berita kali). Kemudian dari keterangan Mas Aji Prasetyo waktu itu, memang Kidung Malam mengambil setting  sebuah fakta sejarah, yaitu pasukan elit Bulkiyo (dari kata Boluk nama salah satu resimen Kesultanan Turki Ustmani)  yang bertempur dengan Belanda di tahun 1828. Pasukan ini merupakan pasukan elit milik Pangeran Diponegoro. Dalam komik ini memang tidak sepenuhnya bercerita mengenai Bulkiyo, akan tetapi pembaca digiring juga dalam romantika tokoh Dayat anggota pasukan elit Bulkiyo yang harus meninggalkan istrinya untuk berperang. Sungguhpun begitu, bagi saya pribadi cenderung  tertarik pada  tiga kata kunci yaitu Diponegoro, buku sejarah, komik.

Sejauh  yang saya tahu, ketika berbicara tentang Diponegoro, seketika saja muncul imajinasi mengenai ketokohan Diponegoro, seorang bangsawan yang turun tangan   langsung memimpin perlawanan terhadap penjajah tanah leluhurnya. Juga tokoh Sentot Prawirodirjo itu. Kebesaran tokoh Pangeran Diponegoro menjadikannya sebagai fakta sejarah yang masuk dalam buku pelajaran formal sekolah.  Bagaimana dengan peristiwa Semin itu? Saya mulai menduga-duga, mungkin peristiwa ini hanyalah partikel kecil  yang tidaklah terlalu penting untuk diarsipkan dalam bentuk buku sejarah, mungkin karena yang terlibat disana hanyalah sepasukan kecil-meski elit- sehingga kurang menarik untuk dituturkan sebagai fakta real dalam teks formal bagi para siswa sekolah. Sekali lagi itu hanyalah loncatan pikiran yang spontan muncul setelah menikmati Kidung Malam.

Kemudian mas Aji Prasetyo menghidangkan peristiwa Semin dalam bentuk komik. Serta merta, pikiran usil saya menggeliat. Ada banyak tanda yang dihadirkan sang kreator komik untuk memberitakan bahwa peristiwa Semin adalah fakta real dari sejarah bangsa ini. Berbeda dengan komik Melati Revolusi yang menghadirkan tanda berupa sebuah gambar ilustrasi peristiwa perobekan bendera Belanda yang heroik, dimana mudah dikenali karena sudah banyak dimuat di buku pelajaran sekolah maka dalam Kidung Malam , Mas Aji dengn cerdik membangun  tandanya sendiri yaitu antara lain dari kata-kata penutupnya yaitu : “18 April 1828, setelah desa Semin dikuasai Belanda, Pangeran Notodiningrat bersama 200 orang pengawalnya mendatangi Kolonel Sollewijn untuk menyerahkan diri. Lebih dari 600 orang prajurit Bulkiyo yang dipimpinnya tercerai berai. Hanya sedikit dari mereka yang berhasil menyeberangi Sungai Progo, sisanya tersudut di pegunungan Selatan…..”. Tanda yang lain berupa catatan kaki tentang Bulkiyo, Kidung Rumekso Ing Wengi (tembang ciptaan Sunan Kalijaga), Sultan Sepuh (sebutan bagi Sultan HB II), Agadullah (kepangkatan dalam pasukan Diponegoro), Sultan Ngabdul Kamid (gelar yang disandang Pangeran Diponegoro). Sebagai pembaca, katakanlah audience, maka bagi saya tanda-tanda itu telah cukup mengantarkan pikiran saya mengenai realitas Semin, ditambah keberuntungan saya mendengar langsung dari Mas Aji mengenai peristiwa Semin yang luput dari kacamata buku pelajaran sejarah formal. Dengan demikian komik mampu menjadi medium non formal bagi sebuah upaya penyampaian fakta, istilah kerennya media alternatif.

Advertisements

5 Comments (+add yours?)

  1. bintangtimur
    Feb 25, 2010 @ 14:32:54

    Peristiwa Semin yang luput dari catatan perjalanan bangsa ini, pasti memberkan pelajaran berarti bagi berdirinya NKRI.
    Btw, saya jadi kangen melintas di depan hotel Oranje (sekarang namanya hotel Mojopahit) di Surabaya deh… 🙂

    Reply

  2. vany
    Feb 26, 2010 @ 03:25:57

    saia suka baca komik, mas…
    tapi memang arang sekali komik betema sejarah ya…
    pdhl kalo bnyk komik sperti itu kan menarik…
    secara bnyk org yg menganggap sjarah itu membosankan…
    kalo lwt visual gt, jdnya org2 gak males mempelajari sejarah…hehehe

    *slm knl dan mksih udah mampir di blogkuw ya*

    Reply

  3. aji
    Feb 27, 2010 @ 19:33:42

    terima kasih atas kuratorial yang indah ini. sebuah kerja berkesenian yang melelahkan tidak akan percuma jika mendapatkan apresiasi yang layak. sekali lagi terima kasih

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS bacaan menarik

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: