Tasikmalaya, jeda dunia kaca

Jakarta dan dunia kaca,  sebuah prolog

Saya menyebutnya sebagai dunia kaca, mengapa? karena hampir selama kurang lebih 10 jam saya bergelut dengannya. Semua aktivitas kerja berpusat padanya, sebuah benda bersinar di depan mata yang entah bagaimana dulu manusia menciptakannya sehingga sekarang setiap sendi hidup manusia mendapatkan sentuhannya. Dialah komputer, kotak ajaib yang begitu memukau jaman. Keseharian dunia kaca saya,yaitu menikmati kehebohan produk budaya manusia yang bernama software Corel Draw, Photoshop, Adobe Ilustrator, Nero Smart, 3D Max, MS Office, MS Power Point. Membaur dalam arus komunikasi virtual e-mail, chatting,. Berselancar dalam Yahoo search engine atau temannya yaitu Google search engine. Menjadi penghuni kota Facebook. Berloncatan antar dimensi alat seperti Canon Scan, Canon Printer, Canon Digital Camera, Sony Digital Camera, Sony Handycam yang berpadu dengan hentakan keyboard dan tarian mouse, di satukan dalam panggung dunia kaca komputer. Otak beradu dengan waktu yang menuntut kerja cepat, dikejar deadline bahkan dalam hitungan menit. Kadang kehabisan ide, lalu diiperas lagi. Ketawa gila, mentertawakan diri dan keadaan yang kadang lucu dan tak masuk akal. Kok bisa ya? Kok harus begini dan begitu? Kenapa ini dibilang jelek kenapa itu bagus? Survival bertahan hidup, atau lebih tepatnya menyambung hidup, atau untutk mencari nafkah?, atau untuk menjemput rezeki?, atau untuk mencari uang?, ngumpulin duit? Biar bisa makan? Mencari sesuap nasi? Bekerja adalah ibadah?,Inikah ideologi bekerja yang ada dalam benak tiap orang? Ketawa lagi mentertawakan pikiran sendiri yang konyol dan usil. Lalu jam sudah pukul 8 malam, waktunya mundur dari dunia kaca, pulang dengan segala kelelahan.

Tasikmalaya, jeda dunia kaca

Ketika akan berangkat ke Tasik, sengaja saya tidak membawa buku digital alias laptop. Biarlah sejenak membebaskan diri dari layar LCD. Ini adalah kali pertama saya ke Tasikmalaya. Jalan kea rah Tasik, yang masuk jalur Selatan Jawa, sangat menyenangkan,sepanjang Nagreg, Ciawi, sampai Tasik berkelok-kelok mesra di antara bukit dan jurang, dihiasi sawah terasering. Ini mengingatkan saya akan jalan daerah Karangpandan Karanganyar Jawa Tengah menuju Tawangmangu daerah kaki gunung Lawu, atau jalur lintas Sumatera  ke arah Bukit Tinggi. Ketika melintas di jalan Ciawi-Malangbong terdapat wisata agro berupa kebun strawberi yang bisa dipetik sendiri ketika membelinya.

Daerah yang  saya tuju adalah Cibereum. Kesan pertama waktu masuk ke daerah itu adalah alamnya yang kontemplatif, kontur terasering persawahannya mengingatkan saya pada lukisan moi indie-nya Walter Spies yang banyak memotret keindahan Bali.  Hari pertama di Tasik sudah sore, malampun menjelang, kegiatan pertama saat residensi adalah ngobrol dengan Panji, dalam sktesa ini saya menyebutnya sebagai  kawan  Panji. Seorang perupa Tasikmalaya, lama sekali tidak bertemu dengannya.

teman saya Panji

Esok harinya petualangan seni dimulai, sasaran pertama adalah stasiun Tasikmalaya,  sebuah stasiun mungil di kota yang juga mungil. Kalau dari sudut pandang arsitektur, mungkin hampir sama dengan stasiun Jebres di Solo. Yang menarik adalah bentuk jam di ruang tunggu penumpang.

Tujuan berikutnya adalah Cirahong, sebuah daerah yang memiliki bangunan jembatan unik peninggalan Belanda. Unik karena jembatan ini memiliki dua fungsi sekaligus yaitu rel kereta pada bagian atas dan pada bagian bawahnya untuk melintas mobil, kendaraan bermotor, pejalan kaki. Jembatan ini merupakan salah satu   penghubung dari daerah Tasikmalaya dan Ciamis

Di bawahnya mengalir sungai Citanduy, sungai sepanjang 170 km. Hulu sungai Citanduy ini berupa sungai kecil di kaki gunung Cakrabuana (1750 mdpl) di kampung Mandalawangi, Desa Buana Mekar , Dusun Cikuda, Desa Sindangbarang, Kecamatan Panumbangan, Ciamis. Sungai ini bermuara di segara Anakan, Dusun Majingklak, Desa Panotan kecamatan Kalipucung.  Aliran Sungai Citandui dijadikan tapal batas alam antar wilayah administratif Ciamis dan Tasikmalaya.( Andri M Dani.Harian Tribun Jabar 6 Maret 2010).

Kebetulan sekali ada yang kasih pinjam Koran ini dan pas ada artikel mengenai Sungai Citandui, yup memang hidup itu yang enak ya yang pas-pasan kali ya. Seperti waktu bikin sktesa ini, pas butuh informasi, pas ada yang kasih pinjam Koran, dan pas lagi ada ulasan yang terkait, senengnya bukan main.

Masih dari arrtikel Andri M Dani di Tribun Jabar tersebut, Sungai Cintanduy ini menyimpan misteri menurut penduduk setempat. Yang paling heboh adalah misteri Enoh. Ceritanya terjadi pada tahun 1982, seorang warga bernama Enoh, perempuan berusia 26 tahun ditemukan tewas mengapung di Leuwiliang (memang sungai ini banyak Leuwinya / Lubuk) setelah melahirkan anaknya. Yang  menghebohkan bukan masalah Enoh yan ditemukan telah tewas tetapi jejak yang ditinggalkan yang menjadi petunjuk warga untuk menemukan jasad Enoh. Jejak itu  menunjukkan kalau Enoh seperti diseret oleh sesuatu dari rumahnya sampai tebing leuwi,  dan sampai sekarang masyarakat setempat belum tahu apa atau siapa yang menyeret Enoh tersebut. Boleh percaya atau tidak.

Konstruksi jembatan semacam jembatan Cirahong ini bisa juga dijumpai saat mellintas di Tol Cipularang, tetapi tidak sama persis dengan yang satu ini. Lho kok begitu? Kenapa ya? Karena yang di Cipularang itu hanya jalur Kereta api saja, bukan dual function.  Pertanyaan menggelitik terhadap konstruksi bangunan ini yaitu, kenapa ada bentuk lengkung, semacam penahan, tapi justru berada di bawah bukan diatas seperti konstruksi – konstruksi  jembatan saat ini ? adakah yang bisa menjelaskan?

Lebar jembatan ini hanya bisa dilalui satu buah mobil saja, jadi yang melintasi jembatan ini harus bergantian dari dua arah berlawanan. Disini terdapat dua  orang yang mengatur lalulintas penyeberangan. Tentu saja si pengatur ini mendapat semacam retribusi cuma-cuma dari yang melintas.

Setelah puas menikmati Cirahong yang permai, perjalanan dilanjutkan menuju Manonjaya.  Akan tetapi terjadi sedikit kehebohan, yaitu vespa Kawan Panji mengalami mogok , wah seru, maklum “darto” (kendaran tuwo  alias tua) , kumaha atuh kang ?.  Tentang vespa ini saya jadi merasakan bagaimana hidup itu melambat sejenak, setelah beberapa waktu hidup dalam dunia kaca yang menuntut kecepatan ditambah lagi fasilitas di dalamnya yang mendukung percepatan hidup., maka laju vespa ini “alon-alon” (pelan-pelan) seperti menjadi penyeimbang. Jadi melatih kesabaran dan berdamai dengan keadaan.

Perjalanan berikutnya sampai di Manonjaya, tertuju pada sebuah bangunan Masjid Kuno, yaitu Masjid Agung Manonjaya. Pada saat kunjungan ke Masjid Agung ini kondisinya rusak, atapnya banyak yang jebol, dikarenakan terkena gempa pada bulan Ramadhan 1430 H atau tepatnya pada tahun 2009

Masjid ini didirikan pada tahun 1837 oleh RT Danuningrat, beliau membangun bagian utama masjjid, kemudian pada tahun 1889 bangunan tambahan didirikan oleh RTA Wiraadiningrat. Masjid ini pernah mengalami perbaikan yaitu, tahun 1974 dengan dana swadaya masyarakat dan bantunan dari Bp H Amir Mahmud, 1977 dan 1991 dengan dana swadaya masyarakat setempat, 1992 dana APBN pemerintah.

Pada hari terakhir, di pagi yang lumayan dingin, menyenpatkan diri untuk jalan-jalan di sekitar kampung Cibereum, dengan langkah yang jauh dari kesan buru-buru. Ini semacam Counter Culture terhadap ideologi  kecepatan dan percepatan yang melanda keseharian masyarakat metropolitan. Ada sebuah pertanyaan yang muncul dalam hati, yaitu ketika hidup ini terasa semakin memburu dengan waktu yang berlalu cepat tanpa menyisakan sedikit jeda untuk berkontempalasi, introspeksi diri, maka mampukah atau beranikah saya untuk melambat sejenak?

Jalan-jalan di sekitar kampung Cibereum tersebut seperti layaknya melakukan gerakan Tai Chi yang halus, pelan dan mendalam .Inilah pencapaian keseimbangan ala Yin Yang , bahwa mengalami “cepat” terus menerus tanpa pernah melambat saya pikir tidak bagus buat kesehatan jiwa, pun begitu dengan “lambat” terus menerus juga tidak baik untuk “gelora  jiwa”. Saya bersyukur residensi di Tasik membuat saya mengalami keduanya.

Konsep keseimbangan kedua yang dirasakan adalah terbangunnya kembali jalan komunikasi dengan lingkungan nyata. Sebuah komunikasi verbal langsung dengan individu real tanpa dibatasi sekat kaca (e-mail, chat,yahoo messenger atau apapun bentuk produk dari virtualisasi dunia kaca)

Menyusuri kampung dengan suasana yang  nyaman diiringi kicau burung Kolibri dan burung-burung kecil lainnya, sempat juga melihat seekor burung jenis Raja Udang, bertengger di sebuah tonggak bambu di persawahan. Paruhnya berwarna merah, bulu tubuhnya hijau kebiruan, burung ini memakan ikan dan udang. Yang menarik adalah hampir setiap warga Cibereum memiliki kolam ikan. Sambil berjalan-jalan merasakan pembebasan diri dari virtualisasi hidup dalam ranah dunia kaca.

Ada sesuatu yang tidak dapat tergantikan melalui dunia kaca, yaitu rasa emosional dan spirit dialog. Bahwa kode-kode pengganti seperti avatar, gravatar,smilley dengan bentuk yang beranekaragam mulai dari yang gambar diam sampai yang ter-animasikan, tidaklah cukup untuk mewakili realitas emosional seseorang, Jean Baudrillad menyebutnya dengan galaksi simulacra (galaksi simulasi).  Apa yang terjadi dalam galaksi simulacra itu seringkali tidaklah cukup untuk menggantikan face to face dalam arti sesungguhnya. Maka lihatlah doa-doa yang terucap langsung dari lisan para insan yang bertemu secara langsung, rasakan spiritnya, rasakan ketulusannya,rasakan intonasi suaranya yang akan terngiang terus di telilnga. Dalam keseimbangan yang kedua ini,  saya mendapat gizi hati dan jiwa. Saat itu obrolan berlangsung dengan ayahanda Panji, namanya Pak Yudawan. Obrolan tersebut mengkisahkan tentang pengalaman hidup ayahanda Panji. Ternyata beliau berasal dari kota yang sama dengan saya, yaitu Solo dan rumah beliau dulu di derah Keprabon Solo, tidaklah terlalu jauh dari kampung halaman saya. Beliau sempat berpindah tempat tinggal, mulai dari Bali, Bandung dan sekarang menetap di Tasikmalaya, tak heran jika beliau menguasai beberapa bahasa daerah Jawa, Sunda dan Bali, mendapat istri orang Minang. Sebuah pembauran yang melebur batas-batas primordialisme, bahwa Tuhan menciptakan manusia itu berbeda-beda , bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling kenal, saling menghormati, mengasihi dan menyayangi.

Akhirnya, residensi tersebut berakhir, dan harus kembali ke Jakarta.   Dengan naik bus Budiman, perjalanan dilakukan lagi, sebelumnya juga naik bus Budiman  saat berangkat ke Tasik Jika ditelaah lebih jauh,  bus  merupakan penanda identitas lokal, tengok saja jika anda mendengar nama bus Sumber Kencono maka orang akan menyebutnya ‘oh, ya itu bus Suroboyoan (maksudnya bus yang melayani dan berasal dari Surabaya), atau bus Rosalia Indah yang kental dengan nuansa Solo.  Lihat saja plat nomor bus itu, bukankah disitu jelas terpampang huruf sebagai penunjuk daerah asal kendaraan.

Sebagai penutup saya pajang juga artefak budaya yang menemani residensi saya di Tasikmalaya, ternyata artistik juga. Sekian dulu oleh-oleh saya kawan.


Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. jamurkomik
    Mar 11, 2010 @ 06:57:01

    keren!!!
    perjalanan yang sangat seru!!!

    sketsa sampeyan juga keren mas…aku suka, karakternya kuat…!!!!

    Reply

  2. bintangtimur
    Mar 24, 2010 @ 12:27:38

    Asfan…
    Saya selalu kagum melihat coretan dan membaca posting yang sangat dalam disini 🙂
    Pengalaman hidup Asfan, saya yakin, sangat luar biasa.
    Perjalanan ke Tasik, bisa ditulis dan diberi coretan-coretan keren macam ini, kaguuuuuuuuum banget!
    Oya, makasih juga saya udah diberi informasi lengkap tentang berbagai tempat dan sejarahnya…wah, ilmu yang betul-betul tidak ternilai nih… 😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS bacaan menarik

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: