Membaca dolanan, Membaca ruang

“yo poro konco dolanan neng njobo, padang  mbulan, mbulane koyo rino, rembulane ne, sing ngawe-awe, ngelingake ojo podho turu sore”

Lagu dolanan anak  di jawa ini berkisah tentang keriangan anak – anak yang bermain di halaman rumah (njobo ) saat rembulan sedang bersinar terang  (padang  mbulan), rembulan itu seperti melambaikan tangannya (ngawe-awe) dan mengingatkan  untuk tidak tidur di sore hari. Kira-kira seperti itulah terjemahan bebasnya dari lagu ini.

Bersandar dari lagu itu marilah kita usil sejenak dengan menggali lubang pikiran dan memperbincangkan tentang ruang dan permainan (dolanan)  . Marilah kita bawa pikiran kita kembali jauh ke belakang, mungkin beberapa puluh tahun  yang lalu, di suatu tempat bernama kampung halaman, sebuah wilayah yang paling menyimpan memori. Waktu itu bersama teman sebaya, bersuka ria bermain dalam kebersamaan dan juga atraktifitas permainan tradisioanal. Kalau di Jawa ada yang namanya  engklek (congklak), betengan, delikan (petak umpet) dan masih banyak permainan kolektif  lainnya, yang sungguh amatlah sederhana tetapi  menghibur. Pada saat itu, sebuah kampung yang tumbuh dan berkembang secara alami telah membentuk tali ikatan batin kuat antar penghuninya, sehingga sudah seperti saudara sendiri. Kampung – kampung tradisional tersebut memberikan kenyamanan dan kedamaian, dengan fasilitas ruang publik seadanya misal sebuah areal kosong di samping kelurahan, atau halaman sebuah sekolah yang jika sore hari bisa di pakai untuk bermain anak – anak sekitar, lapangan juga gang – gang di sudut kampung.

Jika dicermati, anak – anak pada waktu itu mempunyai daya “kreasi” dan “kemandirian” untuk bisa memilki  mainannya. Sebuah pengalaman pribadi masa lalu saya, yaitu pernah saya melihat teman –teman yang lebih tua dari saya, membuat mobil – mobilan dari kemasan rokok, atau kemasan sabun atau kemasan pasta gigi, kemudian    untuk bannya mereka menggunting sandal jepit bekas yang dibentuk bulat, dan berame –rame, mereka menarik mobil – mobilan itu, tampak sekali nilai kebersamaan  itu dibina sejak kecil. Oya, Waktu itu saya justru membuat replika pesawat terbang jet juga dari bahan yang sama, memang tidak sebagus yang beli di toko, tapi pada waktu itu ada semacam kepuasan.

Lirik lagu tersebut di atas sekarang akan saya bawa ke dalam konteks “kini atau sekarang”. Katakanlah – istilah saya-“anak- anak  padhang mbulan” tadi sudah dewasa dan hidup dikota besar, dengan segala pernik – pernik kehidupannya. Mungkin ia akan terhenyak tatkala menyadari bahwa keadaan memang sudah berubah. Di kota ditempat dimana ia tinggal, yang mungkin secara kebetulan adalah sebuah kawasan padat penduduk. Sulit ia jumpai sebuah ruang terbuka seperti dulu, saat masa kecilnya. Jarang sekali ia melihat sekelompok anak – anak yang bermain di tengah siraman sinar rembulan, karena sinar rembulan telah  tergantikan  – istilah halus dari “dihadang”- oleh  cahaya gemerlap lampu per kotaan.

Di perkotaan apalagi kota besar  yang paling tampak menonjol kalau memperbincangkan ruang terbuka untuk publik, barangkali yang menempati urutan teratas adalah Mall. Tengok saja betapa segala fasilitas bisa dengan mudah dijumpai di tempat itu, tentu saja untuk memanjakan pengunjungnya dengan kenyamanan. Bukan tidak mungkin telah menjelma   layaknya “kota kecil  di dalam kota” ,  berbelanja, arena rekreasi, ketemuan dengan kolega, olahraga, aktifitas makan, dan lain- lain, semua dalam satu atap.

 Mall menjadi pilihan ketika sebuah kota kurang  bisa mengcover kebutuhan penghuninya akan ruang terbuka. Jalanan dalam hal ini trotoar sudah penuh dengan pedagang kaki lima, belum lagi polusi kendaran, bising, udara luar ruang yang panas dan berdebu, dan juga faktor keamanan yang begitu minim, sehingga orang – orang lebih memilih Mall untuk mendapatkan titik “nyaman”.

Kembali ke soal “dolanan”.    Tidak dapat dipungkiri terjadi perubahan /   metamorphosis dengan munculnya permainan yang lebih moderen salah satunya adalah permainan berbasis komputer dengan berbagai jenisnya bentuknya. Permainan itu memiliki kemasan yang cukup menarik perhatian. Para programer game menciptakan sebuah “halaman rumah” imajiner dalam bentuk yang beraneka ragam.  Marilah kita ambil satu contoh , kalau dahulu “anak – anak padhang mbulan” bermain perang –perangan   berlarian diantara gang kampung, maka sekarang hal itu telah diusung dalam kemasan games bergenre perang. Di situ, di dalam sebuah ruang imajiner, anak – anak diajak untuk “mengalami” peperangan selayaknya prajurit dengan kostum perang, taktik, senjata, dan juga tentu saja visual dan suara selayaknya medan perang sesungguhnya. Apa yang membedakan dari kedua pola permainan tersebut adalah kalau “anak –anak padhang mbulan” mengalami sensasi fisik dan emosional  (berlari dan berintersaksi ), ini sulit dicapai melalui komputer games dimana  yang bermain terbatas pada mata, otak dan juga jari yang menekan tombol saja, sementara anggota badan lain mengalami fase “pasif”. 

 Kesimpulannya adalah begini, kebutuhan akan ruang interaksi bersama atau kolektif merupakan kebutuhan yang tidak bisa dianggap remeh, karena disanalah  salah satu pondasi  bangunan kehidupan sosial masyarakat yang rukun berawal. Dan perihal permainan anak – anak, tentu saja harus ada kearifan dalam menyikapi, antara gencarnya penetrasi permainan berbasis komputer dengan permainan tradisional semacam petak umpet, sehingga tidak hilang begitu saja, karena ini juga merupakan perekat batin dari si anak dan teman- temanya.

  

 

Advertisements

15 Comments (+add yours?)

  1. Asop
    May 21, 2010 @ 01:25:00

    ………saya harus membaca berulang-ulang dulu….. 😐

    Reply

  2. bintangtimur
    May 22, 2010 @ 12:23:08

    Asfan, saya seneng banget dengan penggambaran ruang bermain untuk anak-anak di posting ini 🙂
    Biarpun tidak pernah tinggal di sebuah kampung halaman (dalam arti ada sawah, gunung dan sungai…) saya sempat menikmati asyiknya bermain dengan teman-teman sebaya. Bermain tali, engklek atau galah asin adalah beberapa permainan wajib masa lalu, dimana saya belajar berinteraksi dengan teman-teman sebaya.
    Ikut prihatin dengan game di komputer, PSP atau wahana lain yang sejenis…permainan yang membuat kecanduan itu, betul-betul menjauhkan anak dari pentingnya sosialisasi…

    Reply

    • asfan
      May 22, 2010 @ 12:30:09

      @bintangtimur : sebetulnya game di komputer juga nggak selalu berdampak buruk…asal bagaimana mengkondisikan si anak…agar juga bisa bersosialisasi dengan lingkungan……^_^

      Reply

  3. julie
    May 22, 2010 @ 12:42:08

    hi asfan
    saya sempat bingung ketika saat ini hidup di sebuah rumah yg kecil karena tak mampu menyediakan tempat bermain luas utk anak saya spt saya dulu ketika kecil
    tp akhirnya sy berpikir bhw sebesar apapun lahan bermainnya yg penting adalah eksplorasi kecerdasan dan keterampilannya

    Reply

    • asfan
      May 23, 2010 @ 02:05:27

      hai julie…ya…betul betul…dan yang lebih penting lagi adalah mengawal anak saat tumbuh kembangnya sehingga nantinya menjadi manusia – manusia bijak…^_^

      Reply

  4. sunflo
    May 22, 2010 @ 15:50:08

    aq adalah generasi yang pernah menikmati permainan ini… kumpul dengan teman2 saat padang bulan… dan setelah itu, jarang dan bakantak pernah lagi kujumpai dia menyapa anak2 kota… 😦

    Reply

  5. cow
    May 23, 2010 @ 02:54:06

    untung deh di kampungku masih banyak anak kecil yang menikmati bermain di bawah sinar bulan, walaupun tidak memainkan permainan tradional dan berkreasi dengan alat tradional seperti aku dulu setidaknya ruang gerak mereka tidak melulu hanya tentang teknologi dan Mall saja

    Reply

  6. yanrmhd
    May 23, 2010 @ 03:14:50

    wah, kembali membuka memori jaman jadul,
    betapa asiknya bermain ala ‘jaman bareto’ (jaman dulu)
    penuh kekeluargaan, toleransi, dan mempererat paersahabatan…. 🙂

    sayang anak jaman sekarang hampir atau tak pernah menikmati dolanan itu,,, 😦

    Reply

  7. rosenrain
    May 23, 2010 @ 04:00:43

    nice post !

    sy bukan yang termasuk merasakan kebahagiaan dan keceriaan itu,
    hanya saja, ketika kecil sy seringkali bermain di sawah bersama teman-teman karena memang rumah saya yg letaknya di dekat sawah..
    dan memang sangat menggembirakan..

    *smile*

    Reply

  8. uni
    May 23, 2010 @ 04:38:42

    iya, mainan anak jaman dulu lebih beragam daripada anak sekarang 😀

    Reply

  9. camera zoom
    May 23, 2010 @ 07:22:06

    hm…
    gitu ya

    Reply

  10. vany
    May 23, 2010 @ 11:58:13

    baca tuisan ini, aku jd kgn masa kecilkuw duluw, mas…
    dulu akus ering main masak2an, dokter2an, atau petak umpet gt brg tmn2 komplek rmhkuw…
    seru bgt rasanya berbaur dg mereka…hehehe
    tapi, yah itu tadi…
    kyknya skrg ini mulai jarang ya…..hihihi
    btw, tulisannnya mas asfan dr kmrn sprtinya membahas tema yg sama ya…
    knp nih? 😉

    Reply

    • asfan
      May 23, 2010 @ 12:44:19

      @cow : beruntunglah anak-anak di kampungmu mas…^_^
      @yanrmhd : kemungkinan kata toleransi dan persahabatan telah berubah dalam bentuknya yang khas anak sekarang…kira-kira apa yach..^_^
      @rosenrain : hmmm kayak si bolang yach…asyik bener..^_^
      @uni : lain dulu lain sekarang yach uni…^_^
      @vany : yup…aku lagi tertarik dengan tema sperti itu……^_^

      Reply

  11. deny marisa
    May 25, 2010 @ 00:26:30

    wah..kalau mau menemukan permainan tradisional zaman gini…ya harus nunggu 17 agustus dulu…

    nb: maaf ya pak…lama ga BW. I net lagi lemot.. 😦
    maafkan saya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS bacaan menarik

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: