Bertemu Sketsa di Dua Jalan

Sketsa, jalan tempuh dokumentasi artistik.

Duduk sambil membawa kertas dan alat gambar sederhana semisal pulpen atau spidol. Kehadirannya di tempat-tempat tertentu  bisa jadi unik. Aktivitas memindahkan realitas  yang dilihat kedalam dimensi karya rupa berupa garis,mungkin juga  warna yang sederhana, merupakan cara mengabarkan ke orang lain tentang situasi dan kondisi yang ada. Tidak menuntut untuk menjadi sebuah gambar yang sempurna, melainkan impresi (kesan) yang dilihat si pembuat dan kesan kabar yang tersampaikan kepada yang melihat.  Makna kehadiran diri di tempat saat  proses  membuat sketsa, adalah hal yang khas, di sana ada semacam dialog yang berlangsung antara si pembuat dengan lingkungannya.

bikin sketsa di waktu senggang (okim asfan)

Inilah sebuah fenomena dari seni sketsa sebagai sebuah dokumentasi artistik. Dia hadir menjadi unik jika ditengok ke dalam khasanah media rekam dimana fotografi (rekam diam/still image) dan video (rekam gerak/motion) mampu  menghadirkan presisi visual yang sama persis dengan aslinya, maka dalam sketsa hal itu menguap dan kalo boleh saya istilahkan mendapat semacam “anugerah” estetik. Artinya sketsa disini mampu untuk menerima  kenaifan coretan garis sebagai upaya mengabarkan sesuatu (misalnya : tempat, suasana, figur orang dan aktifitasnya).

Pengalaman terjun langsung dalam akitivitas sketsa bersama komunitas Indonesia’s Sketcher  membawa ke sebuah perbincangan menarik. Antara lain mengenai proses kerja seorang sketcher (istilah sebutan bagi si pembuat sketsa) ada dua jalan yang ditempuh, yaitu sketch on location/on the spot dan re-drawing. Pengertian secara bebasnya on location/ on the spot adalah berada langsung di tempat, artinya seorang sketcher -seperti diterangkan dalam aliena pembuka diatas – berada langsung ditempat untuk membuat sketsa. Nah untuk yang re-drawing pengertiannya kurang lebih begini seorang sketcher yang menggunakan alat bantu bisa berupa  selembar foto untuk kemudian dari foto itu digubah/digambar ulang  lagi ke dalam bahasa rupa sketsa, hal ini sangat kondisional, terkadang memang  waktu kurang memihak (sangat mendesak) seorang  sketcher sehingga tidak bisa menempuh jalan on the spot , maka jalan inilah yang akan ditempuh.

foto koleksi Indonesia's Sketcher

Lalu kemudian muncul perbincangan unik lagi disini, yaitu ketika mempersoalkan apakah karya dari jalan re-drawing ini bisa disebut juga sebagai sketsa seperti apa yang dicapai dengan jalan on the spot , mengingat  secara alur kerja re-drawing sudah mengalami perpanjangan proses, yaitu seorang sketcher tidak harus bekerja “di tempat langsung” melainkan memindahkan proses kerjanya di “studio”, tempat yang dalam beberapa faktor bisa jadi lebih nyaman dan aman untuk bekerja di banding jika bekerja “di tempat langsung”.  Jawaban yang saya temukan sangatlah humanis, keduanya adalah karya sketsa hanya saja re-drawing agaknya harus mau menjadi yang kedua setelah on the spot. Yang saya  ingat dari perbincangan asyik itu  adalah makna “hadir”  dari seorang sketcher di lokasi sebagai perekam, merasakan realitas berupa aneka ragam kondisi lingkungan, dan itu sangatlah menakjubkan.

Hal lain yang boleh jadi asyik ketika membuat sketsa, adalah adanya spontanitas garis yang kadang tak terduga seperti  garis-garis “gagal, salah”.  Tapi tetap saja itu tidak perlu dihapus. Menurut saya justru di situlah sebuah sketsa terlihat seksi.

Banyak teman komunitas IS yang menjadikan sketsa selayaknya sebuah diary.  Buat yang lebih tertarik silahkan klik blog IS

Pengen tahu lebih banyak tentang Indonesia’s Sketcher, silahkan klik link ini :  Indonesia’s Sketcher

***********************************************************************************

Sketsa, jalan kelahiran  sebuah karya

Bagaimanakah mewujudkan sebuah ide segar dalam pikiran menjadi gambar yang menarik untuk dilihat. Kawan saya mengawalinya dengan menuangkan ide itu ke dalam bentuk sektsa, sesuai dengan apa yang terbersit dalam ide.

Sketsa? Yah itulah yang Tito lakukan ketika beraktivitas memproduksi komik atau film animasi.  Saya bertandang di studionya TERAPIKOMIK dan ngobrol mengenai sketsa.  Bagi Tito  (kawan saya) sketsa itu adalah ekspolarsi, memanfaatkan ketidaksengajaan/spontanitas/tidak terencana jadi biasanya tidak rapi. Sketsa membebaskan kita dari pemilihan tools (software komputer, misalnya)karena bisa dilakukan dengan media apapun. Intinya pencapaian yang lebih tinggi dari apa yang dibayangkan.

Dalam konteks proses produksi sebuah karya. Sketsa memegang peranan penting, posisinya tak ubahnya embrio sedangkan ide adalah ruhnya. Skema sederhananya adalah seperti ini.

Ide—–sketsa——-hasil karya akhir

image by : terapikomik

image by: terapikomik

 

image by : terapikomik

image by: terapikomik

untuk mengetahui lebih lanjut silakahkan klik disini yach….: terapikomik.com

Dapat dilihat dari skema di atas, bagaimana rancangan awal sebuah  karakter tokoh  yang dibangun melalui garis-garis liar nan ekspresif. Selain untuk rancangan awal karakter tokoh, Tito juga menggunakan sketsa untuk  membangun gesture atau gerak tubuh dari si karakter.

Selain itu kehadiran sketsa juga dianggap penting dalam sebuah proses produksi film animasi. Yaitu selain sebagai rancangan awal dari karakter tokoh, desain gambar back ground dan gambar pendukung lainya, sketsa kemudian dijadikan  selayaknya sebuah film, biasanya untuk mengetahi durasi (waktu tayang) film, proses ini disebut sebagai animatic, ibaratnya ini adalah sketsa yang digerakkan sehingga sudah bisa tahu gambaran kasar dari film animasi yang akan dibuat, biasanya dalam animatic selain sketsa juga kadang sudah dimasukan musik, sound effect dan juga dialog suara dari tokohnya.

Oke sampai di sini dulu bincang-bincang  mengenai seni sketsa. Semoga bermanfaat.

Advertisements

4 Comments (+add yours?)

  1. terapikomik
    Jan 06, 2011 @ 04:43:13

    Aku setuju opini sampeyan di awal, sketsa selalu soal impresi.

    Reply

  2. bintangtimur
    Jan 12, 2011 @ 01:21:46

    Trima kasih buat ilmu tentang sketa ini, Asfan…istilah sketcher ini, baru pertama kali saya baca di posting Asfan 🙂
    Ternyata tidak mudah ya membuat sebuah karya seni, ada proses lumayan rumit yang harus dilalui agar sketsa atau gambar yang dihasilkan bisa dimengerti oleh yang melihat gambar tadi…
    Terus berkreasi Asfan, sukses!

    Reply

  3. asfanforever
    Jan 12, 2011 @ 14:50:31

    @bintang timur: oke sama-sama bunda…..terimakasih……:)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS bacaan menarik

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
December 2010
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: